bintang itu benar2 datang
di siang bolong saat waktunya makan sore
bintang itu masi sama
hitam gendut dan menyandang tas kamera
menyambut uluran tanganku dengan senyum sumringah
"apa kabar?"
aku nyengir kuda
"ah, ky gak tau aja, ya bgini ini"
aku diam
bintang itu diam
hanya saling memandang
tersenyum mengejek
"laper ni"
lalu kami beranjak menuju kafetaria
ditemani kolam ikan dan es teh manis bintang itu mulai bicara
candaan2 lama
saling mencela bagi kami sudah biasa
mengkritik tanpa basa basi
obrolan romantis hanya dalam angan belaka
aku menanggapi tentunya dengan canda dan tawa juga
aku bisa menikmati semua obrolan dengannya
sharing dengan nyaman tanpa ada yg perlu ku tutupi
bintang itu memang sudah terlalu mengenalku
sesaat aku tak bersuara ketika bintang itu bertanya
"lo beneran mau nikah sm dia ya?"
pertanyaan yang sudah ku duga
aku mengangguk
"ya, gua dah dilamar, semua dah diatur, tinggal diurus selanjutnya"
bintang itu hanya mengangguk2
aku bicara kembali
"kenapa? ada yg mau diomongin?"
bintang itu hanya menoleh tanpa senyum
matanya memandangku dengan enggan
"ya lo tau gua lah"
aku melirik penuh tanda tanya
"ya elah, masa mesti dijelasin sih?"
aku pura2 bodoh
"klo lo emg cinta sm dia dan dia cinta sm lo, ya udah"
aku menghela nafas
mata kami bertatapan
saat ini akhirnya tiba juga
salah satu saat terberat buatku
aku sadar mulai saat ini mata itu tak lagi jadi milikku
ku beralih melihat tangannya yang selalu menjagaku
tubuh yang selalu ada untuk melindungi ku
aku akan benar2 berpisah dengannya hari ini juga
bintang itu memang tidak rupawan
tp bintang itu selalu memperhatikan aku dalam diam
setiap kali aku bergerak mencari pelabuhan lain
bintang itu hanya tersenyum memperhatikan
dan saat kapal2 pesiar itu meninggalkanku
bintang itu mendukung dengan genggaman tangan
seolah berusaha menguatkan
bintang itu kembali bicara
"gua blum bisa kemana2"
aku terdiam lagi
"gua tau kita gak bakal mgkn bisa ky dulu lagi"
bintang itu terdiam juga
"sbntar lagi lo dah jadi istri orang"
bintang itu mencoba tersenyum mengejek
sambil mengatakan bahwa aku akan jd ibu rumah tangga tanpa daya
ya, bintang itu memang terlalu mandiri
walau banyak bagian dari hidupnya pun turut kuurusi
aku mulai senyum2 mendengar ejekannya
"tp jangan gagal lagi ya, jgn nangis lagi, jgn sampe ada yg nyakitin lo lagi.."
aku mencoba menahan air yg mulai menutupi lensa
dan air mata itu benar2 tumpah ketika bintang itu berkata
"..gmana pun lo berharga buat gua"
aku menangis tanpa ingin berhenti
melepaskan semua beban yg kini kusimpan sendiri
sesaat terbayang dia yang...
ah, sudah lah!
bintang itu kembali memandangku
"ya elah, nangis beneran lagi"
aku memandang dengan sebal
"knapa siy org lg nangis di gangguin"
bintang itu tertawa-tawa
aku kembali menatap matanya
"makasi ya"
bintang itu diam saja
"ya elah, iye iye, udah ah gua mau plg, kereta malam ini"
aku tercengang
bintang itu benar-benar melepasku hari ini
tepat di lima tahun kisah kami
bintang itu berusaha untuk ikhlas
dari tatapan matanya aku mampu membaca
setiap kali bintang itu memandangku
aku tau bintang itu masih akan terus ada di sana
ntah sampe kapan
"ada yang lupa"
bintang itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya
lilin merah angka lima
waktu taun ke tiga aku melakukan hal yang sama untuknya
lilin angka tiga kukirim ke kotanya
bintang itu mengambil tanganku
menorehkan kata "SHMILY"
dan meletakkan lilin itu di sana
"selamet ya, smoga bahagia, jgn blagu lu sm suami"
aku hampir menangis tetapi tidak jadi
aku melet menanggapi ejekannya
bintang itu kembali tertawa
pertemuan kami ditutup dengan munculnya kereta depok-kota
aku ingin sekali memeluknya seperti perpisahan2 kami dulu
tp kini pasti akan terasa terlalu menyakitkan untuknya
aku menjabat tangan bintang itu
"ati2, wish u a lot of luck, sukses terus ya, jgn prnh putus asa"
bintang itu menatap nanar
"oia, jgn lupa ke gereja"
bintang itu mengangguk seraya naik ke kereta yg segera berlalu
aku bahagia
aku ingin bintang itu juga bahagia
yah, Bos Besar itu pasti punya rencana lain untuk kami berdua
semoga
22.2.05
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




1 comment:
kalau Bos besar itu punya sudah punya rencana, buat apa kita berencana? Kenapa ada istilah "manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang memutuskan"?
Tapi yakin aja, kalau yang namanya "Bintang", pasti dan akan selalu bersinar walau sesekali redup. Bersinar di hati orang-orang yang pernah disentuhnya :)
Post a Comment